Millennials Terlalu Sering Bertukar Pekerjaan?

adult-agency-business-380769

Realita kerja sekarang sangat jauh berbeda dari beberapa abad yang lalu. Kalau kita berbicara mengenai orang tua kita, mungkin mereka masih bekerja di perusahaan yang sama sejak kita masih kecil. Persepsi kita mengenai sebuah pekerjaan juga mungkin sama dengan persepsi mereka – dimana kita akan mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah dan akan terus bekerja di perusahaan tersebut sampai pensiun.

Akan tetapi, kenyataannya sering kali jauh dari asumsi kita tersebut. Millennials, atau generasi yang lahir di tahun 1981 s/d tahun 2000 (Reeves & Oh, 2007), sering kali berfikir untung bertukar pekerjaan, atau pun sudah pernah bekerja di lebih dari satu perusahaan. Untuk kebanyakan Millennials, ada beberapa alasan mengapa mereka memilih untuk berhenti dan mencari pekerjaan di tempat lain.

Happiness

Cukup berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, kebanyakan Millennials mencari pekerjaan yang dapat memberikan mereka kebahagiaan (Smith & Aaker, 2013). Kebahagiaan, walau pun subjektif, sering kali menjadi alat ukur bagi generasi ini dalam mengevaluasi pekerjaan mereka. Kebahagiaan bagi Millennials sering kali dalam bentuk passion atau pun kepercayaan bahwa pekerjaan mereka makes a difference. Ketika visi misi dan budaya perusahaan tidak membenarkan mereka untuk meraih kebahagiaan tersebut, Millennials cenderung untuk lebih berani mengungkapkan pendapat mereka dan tidak takut untuk mencari tempat kerja lain yang dapat lebih memahami pentingnya kebahagiaan bagi mereka.

People that they work with

Di mana pun tempat kita bekerja, politik di dalam perusahaan tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi, ketika kita memiliki seorang pemimpin yang adil dan inspirational, politik ini dapat diminimasikan dan sering kali juga dapat menciptakan lingkungan pekerjaan yang sehat. Millennials pada umumnya mengidami sosok seorang pemimpin yang dapat memenuhi kriteria ini (Ng, et al., 2010) – atau sering kali disebut sebagai transformational leaders. Mereka juga ingin menerima pelatihan dan pengajaran dari atasan mereka, terutama mengenai hal-hal yang dapat membantu berkembangan karir dan diri. Di kala seorang sosok pemimpin jauh dari ekspektasi mereka tersebut, Millennials sering kali tidak termotivasi untuk memberikan kinerja yang positif.  Lagi-lagi, ini juga dapat menjadi salah satu alasan mengapa para Millennials lebih memilih untuk berhenti dan mencari kerja di tempat lain.

Work-Life Balance

Tuntutan pekerjaan terkadang dapat mencapai titik di mana kita tidak dapat menghabiskan waktu bersama keluarga. Keluh kesah mengenai keseimbangan kehidupan kerja biasanya sangat menonjol di kalangan wanita pekerja (Bielby and Bielby, 1989). Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak perusahaan adalah sistem perusahaan yang tidak mengakomodasikan peranan yang karyawan mereka miliki di rumah. Di Asia Tenggara, pada umumnya, wanita masih dituntut untuk menjadi satu-satunya orang tua yang harus secara sepenuhnya mengurus dan membesarkan anak-anak dan berdasarkan Badan Pusat Statistik (2017), 50% lebih dari pekerja di Indonesia adalah wanita. Akan tetapi banyak perusahaan yang masih mengharuskan lembur, tidak memiliki waktu kerja yang fleksibel, atau pun tidak menyediakan fringe benefit dalam bentuk daycare atau fasilitas penitipan anak lainnya. Ini adalah sebuah situasi yang akan menghasilkan ketidakseimbangan kehidupan kerja terutama untuk para wanita. Karyawan pria dari generasi Millennials juga sudah mulai mementingkan keseimbangan kehidupan kerja. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan, ingin dapat berpartisipasi di dalam aktifitas-aktifitas sekolah anak (seperti menghadiri pertunjukan drama anak mereka), bahkan something simple seperti menjemput anak pulang sekolah. Millennials yang belum berkeluarga pada umumnya juga ingin menghabiskan waktu bersama orang tua, saudara, atau pun teman mereka. Terlepas dari status pernikahan, Millennials sangat mementingkan keseimbangan kehidupan kerja (DeVaney, 2015). Jadi ketika sebuah pekerjaan itu mengganggu keseimbangan kehidupan kerja mereka, banyak Millennials yang akan berniat untuk bertukar pekerjaan.

Masih banyak lagi faktor-faktor yang menjadi penyebab mengapa Millennials sering bertukar pekerjaan. Tapi pada kesimpulannya, memahami mengapa mereka memilih untuk berhenti sangatlah penting bagi sebuah perusahaan, terutama bagi para pemimpin. Dengan memahami hal-hal tersebut, perusahaan-perusahaan dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan tetap terus bekarya di bidang perindustriannya. Millennials hanyalah satu generasi yang mungkin sedikit berbeda dari generasi terdahulu (Babyboomers dan Generasi X). Dalam jangka waktu empat sampai lima tahun lagi, generasi baru (atau pun dikenal sebagai Generasi Z) akan memasuki lapangan tenaga kerja, dan perusahaan-perusahaan akan semakin dituntut untuk dapat beradaptasi terhadap perbedaan generasi di perusahaan mereka.

 

References

  1. Badan Pusat Statistik (2017). Persentase Rumah Tangga menurut Provinsi, Jenis Kelamin KRT yang Bekerja, dan Daerah Tempat Tinggal, 2009-2017. Retrieved from: https://www.bps.go.id/
  2. Bielby, W. T., & Bielby, D. D. (1989). Family ties: Balancing commitments to work and family in dual earner households. American sociological review, 776-789.
  3. DeVaney, S. A. (2015) Understanding the Millenial Generation. Journal of Financial Service Professionals.
  4. Ng, E., Schweitzer, L., & Lyons, S. (2010). New generation, great expectations: A field study of the Millennial generation. Journal of Business & Psychology, 25, 281-292.
  5. Oh, E., & Reeves, T. C. (2014). Generational differences and the integration of technology in learning, instruction, and performance. In Handbook of research on educational communications and technology (pp. 819-828). Springer, New York, NY.
  6. Smith, E. E., & Aaker, J. L. (2013). Millennial searchers. New York Times1.