Burnout: Tips untuk menjadi social support

Burnout syndrome atau yang juga dikenal sebagai sindrom kelelahan di saat bekerja bukanlah hal asing lagi di masyarakat modern. Kebanyakkan burnout diakibatkan oleh tingkat stress yang sangat tinggi dan lingkungan kerja yang tidak sesuai (Maslach & Jackson, 1981), atau pun juga dapat dikarenakan oleh perbedaan antara kenyataan dan keinginan (Schaufeli & Enzmann , 1998). Burnout sering ditandai melalui menurunnya kesehatan fisik dan mental seorang karyawan (Freudenberger, 1974).

Walau pun pemahaman mengenai burnout bukanlah sesuatu yang baru dan merupakan sebuah bidang studi yang cukup mapan, dalam prakteknya, banyak pemimpin atau pun masyarakat awam yang tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap kondisi tersebut. Ada banyak stigma terhadap fenomena burnout dan sering kali membuat kondisi karyawan tersebut justru menjadi lebih parah.

Berikut adalah beberapa contoh komentar yang harus kita hindari ketika teman dekat atau anggota keluarga kita mengalami burnout.

“Kamu perlu refreshing deh kayaknya. Liburan aja.”

Tanpa kita sadari, menganjurkan karyawan atau pun teman dekat kita untuk refreshing sebenarnya tidak membantu mereka dalam menghadapi sindrom kelelahan mereka. Walaupun berlibur dapat menurunkan tingkat burnout seseorang, efek dari liburan tersebut biasanya tidak berjangka panjang dan akan menurun setelah seminggu atau dua minggu (Westman & Eden, 1997) dimana individu tersebut akan kembali mengalami burnout setelah kembali aktif bekerja. Liburan hanya merupakan suatu wacana untuk lari atau pun sebuah selingan yang pada intinya tidak memecahkan permasalahan burnout itu sendiri.

Selain berlibur, menganjurkan untuk tidur yang cukup, shopping, atau pun nge-spa adalah beberapa contoh nasehat lainnya yang sering diberikan kepada individu yang mengalami burnout. Walaupun membantu, efek dari nasehat-nasehat tersebut kurang lebih sama dengan efek berlibur.

 

“Gitu aja dipikirin. Namanya juga kerja, pasti stress.”

Komentar-komentar seperti ini pada umumnya lebih berdampak buruk ketimbang menjadi sebuah motivasi. Setiap individu memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menangani stress dan menyamaratakan pengalaman kerja seseorang biasanya malah sangat kontraproduktif. Untuk menjadi social support yang efektif, kita harus lebih memahami dan mencoba untuk melihat situasi yang mereka hadapi dari sudut pandang mereka. Mengakui dan memahami kesulitan yang mereka hadapi merupakan langkah pertama untuk membantu mereka menghadapi tekanan kerja. Biasakan untuk bertanya mengenai perasaan mereka saat menghadapi-tekanan tersebut dan bertanya bagaimana kita dapat membantu untuk meringankan efek negatif dari tekanan tersebut.

Walau pun kita mungkin tidak dapat memberikan solusi atau saran mengenai permasalahan yang mereka hadapi, penjadi seorang teman yang akan selalu mendengarkan sedikit lebihnya akan meringankan beban tersebut. Individu-individu yang memiliki social support yang baik biasanya lebih dapat menangani tekanan kerja dengan kepala dingin dan mengatasi permasalahan dengan lebih efektif (Halbesleben, 2003).

 

“Ah, burnout itu mitos.”

Tidak mengejutkan, banyak artikel-artikel yang mengaku bahwa burnout adalah sebuah mitos dan hanyalah sebuah alasan yang kita gunakan ketika kinerja kita menurun. Sekilas, pernyataan ini sepertinya tidak jauh dari kenyataan dan kita mungkin memang pernah bertemu dengan seseorang yang mengunakan burnout atau pun stress sebagai sebuah alasan. Akan tetapi, burnout di dunia akademia adalah sesuatu yang telah dibuktikan melalu penelitian-penelitian ilmiah (Halbesleben & Buckley, 2004; Weber & Jaekel-Reinhard, 2000).

Jika tidak ditangani dengan benar, burnout dapat memiliki beberapa efek samping (Weber & Jaekel-Reinhard, 2000). Pada awalnya, individu-individu yang mengalami burnout sering merasa capek, menarik diri dari kegiatan-kegiatan sosial, dan mengurangi keterlibatan mereka di lingkungan pekerjaan. Lama kelamaan, mereka akan mengalami breakdown dimana kesehatan mental akan mulai menurun, hilangnya motivasi untuk bekerja, dan sering merasakan tekanan emosional yang berlarut-larut. Kondisi ini berpotensi untuk menjadi kondisi yang sangat serius, dimana mereka dapat memiliki reaksi psikosomatis seperti gangguan tidur, gangguan saluran pencernaan, gangguan kardiovaskular (penyakit jantung), atau pun bahkan dapat menyebabkan depresi.

Mungkin masih banyak lagi komentar-komentar yang kontraproduktif dalam menangani individu-individu yang mengalami burnout. Untuk menanggulangi fenomena burnout ini sendiri, sumber tekanan tersebut harus ditangani. Jika kerjaan merupakan sumber tekanan terbesar, maka seorang pemimpin dianjurkan untuk dapat mengenali tanda-tanda sindrom kelelahan ini dan mencoba untuk memberikan dukungan secukupnya (Hetland, Sandal, & Johnsen, 2007). Dikala sumber tekanan ada pada kehidupan pribadi seseorang, dukungan dari keluarga terdekat dan sahabat memiliki peran penting dimana dukungan tersebut dapat menumbuhkan rasa pencapaian diri dan mengurangi kelelahan emosional (Jacobs & Dodd, 2003).

 

References

  1. Freudenberger, H. J. (1974). Staff burn‐out. Journal of social issues30(1), 159-165.
  2. Halbesleben, J. R. (2003, November). Assessing the Construct Validity of Alternative Measures of Burnout: Investigating the Oldenburg Burnout Inventory and the Utrecht Engagement Scale. In Southern Management Association 2003 Meeting (p. 661).
  3. Halbesleben, J. R., & Buckley, M. R. (2004). Burnout in organizational life. Journal of management30(6), 859-879.
  4. Hetland, H., Sandal, G. M., & Johnsen, T. B. (2007). Burnout in the information technology sector: Does leadership matter?. European journal of work and organizational psychology16(1), 58-75.
  5. Jacobs, S. R., & Dodd, D. (2003). Student burnout as a function of personality, social support, and workload. Journal of college student development44(3), 291-303.
  6. Maslach, C., & Jackson, S. E. (1981). The measurement of burnout. Journal of Occupational Behavior2(2), 99-113.
  7. Schaufeli, W., & Enzmann, D. (1998). The burnout companion to study and practice: A critical analysis. CRC press.
  8. Weber, A., & Jaekel-Reinhard, A. (2000). Burnout syndrome: a disease of modern societies?. Occupational medicine50(7), 512-517.
  9. Westman, M., & Eden, D. (1997). Effects of a respite from work on burnout: vacation relief and fade-out. Journal of Applied Psychology82(4), 516.

Published by

Kiki Haslan

Management Psychologist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s